Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM melaporkan prestasi luar biasa dari kebijakan hilirisasi yang kini menjadi pondasi utama pencapaian investasi di tanah air. Selama tahun 2025, sektor hilirisasi berhasil menyumbangkan 30% dari keseluruhan target investasi Indonesia.
Berdasarkan catatan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, pencapaian investasi pada sektor hilirisasi sepanjang 2025 tembus Rp 584,1 triliun. Angka itu memberi andil sekitar 30,2% terhadap total realisasi investasi nasional di 2025 yang mencapai Rp 1.931 triliun.
Staf Ahli Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Tirta Nugraha Mursitama, menyatakan bahwa di era kepemimpinan Menteri Rosan Roeslani, kualitas realisasi investasi mengalami lonjakan yang sangat berarti. Meskipun begitu, pemerintah menekankan agar tidak terlalu mengandalkan sektor mineral dan batubara (minerba) saja. “Pencapaian akhir 2025 kemarin menyumbang sekitar 30% dari hilirisasi. Secara nominal, nilai investasi tersebut sungguh sangat masif,” kata Tirta saat bertemu di Jakarta Selatan, Senin (9/2/2026).
Walaupun capaian itu mengesankan, Tirta mengakui bahwa investasi hilirisasi masih terpusat pada sumber daya alam non-terbarukan seperti nikel, minyak dan gas (migas), serta batubara. Demi meraih ambisi pertumbuhan ekonomi 8% di 2029, pemerintah kini mulai menggeser perhatian ke arah diversifikasi sektor.
Rencana ke depan akan difokuskan pada pengembangan industri yang berlandaskan energi terbarukan, perikanan, perkebunan, serta pertanian. Langkah diversifikasi ini dinilai sangat penting untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih seimbang di seluruh lapisan ekonomi.
Tahun 2026 dipandang sebagai titik krusial bagi perekonomian Indonesia. Beberapa proyek strategis yang dikelola oleh lembaga investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) direncanakan memasuki tahap peletakan batu pertama (groundbreaking). Danantara secara gemilang memulai groundbreaking Fase I dengan 6 proyek hilirisasi utama bernilai sekitar US$7 miliar atau Rp110 triliun. Ini menjadi tonggak awal dari rencana megah 21 proyek keseluruhan yang diproyeksikan menelan investasi mendekati Rp 500 triliun. Proyek-proyek strategis ini dirancang untuk memperkuat berbagai sektor kunci. Di bidang pertambangan terdapat pengolahan bauksit menjadi smelter-grade alumina dan aluminium di Kalimantan Barat. Sektor energi menonjol dengan bioavtur di Cilacap, bioetanol di Banyuwangi, serta gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Pangan dan industri dikembangkan melalui bisnis ayam terintegrasi serta pengolahan garam industri di Gresik. Inisiatif lingkungan hadir via Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di 34 titik lokasi strategis.
Dampak ekonominya luar biasa dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja hingga 600.000 tenaga kerja. Fokus investasi 12-24 bulan ke depan hingga 2027 difokuskan pada energi terbarukan, infrastruktur digital, dan sektor kesehatan guna mendukung kesejahteraan masyarakat luas. Namun, Tirta menekankan bahwa manfaat ekonomi dari investasi raksasa itu tidak muncul secara cepat. Diperlukan masa transisi sekitar dua sampai tiga tahun sNamun etelah groundbreaking untuk menyaksikan efek pengganda (multiplier effect) yang benar-benar terasa di kalangan masyarakat.
“Untuk investasi, kita perlu kesabaran. Yang utama adalah fondasinya kokoh dan pelaksanaannya optimal. Insyaallah, pada 2029 pertumbuhan ekonomi bisa tembus 8%,” tutup Tirta dalam acara Jakarta Globe Club yang digelar B-Universe.