Hero Background

Jalan Panjang UMKM Indramayu Menuju Daya Saing Global

Oleh Admin 03 Januari 2026
Jalan Panjang UMKM Indramayu Menuju Daya Saing Global

Sumber: Dokumen Pribadi

Putri Haryani, S.Tr.Ak., M.Sc
(Dosen FEB Universitas Negeri Jakarta & Peneliti Anagata Institute)

UMKM di Indramayu kerap digambarkan sebagai tulang punggung ekonomi lokal, terutama di sektor agribisnis, kuliner, dan produk olahan hasil tani yang menyerap banyak tenaga kerja dan menggerakkan perekonomian desa. Di Desa Bulak, Jatibarang, misalnya, puluhan pelaku usaha kecil menjadi penopang utama perputaran ekonomi melalui usaha makanan, pertanian, dan layanan berbasis komunitas. Namun di balik narasi optimistis itu, terdapat masalah struktural yang jarang dibicarakan secara jujur, yaitu keterbatasan modal dan rendahnya literasi keuangan yang menghambat UMKM naik kelas dan memasuki rantai nilai yang lebih luas.

Tantangan Kompleks UMKM

Selama ini, masalah UMKM sering dipersempit menjadi isu “kurang modal”, seolah semua bisa diselesaikan dengan tambahan kredit atau suntikan dana segar. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks. Banyak pelaku UMKM tidak memiliki pembukuan yang rapi, tidak terbiasa menyusun anggaran, bahkan belum mampu membedakan dengan jelas mana keuangan usaha dan mana keuangan pribadi. Ketika laporan keuangan tidak ada atau sekadar formalitas, lembaga keuangan pun ragu memberikan pembiayaan, meskipun ada skema pemerintah seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sebenarnya dirancang untuk membantu mereka.

Di tingkat akar rumput, literasi keuangan yang rendah ini berdampak langsung pada cara pengambilan keputusan bisnis. Pelaku usaha kerap memutuskan menambah stok hanya berdasarkan perkiraan akan laku terjual, bukan proyeksi permintaan yang dihitung dari data penjualan sebelumnya. Kredit diambil tanpa simulasi kemampuan bayar yang matang, dan biaya-biaya kecil seperti ongkos distribusi, kemasan, dan promosi sering diabaikan dalam perhitungan harga pokok. Akibatnya, margin keuntungan menjadi semu dan omzet mungkin tampak naik, tetapi keuntungan riil justru stagnan atau bahkan menurun karena kebocoran pada pos-pos biaya yang tidak terpantau.​ Masalah berikutnya adalah hambatan psikologis dan kultural terhadap pembukuan dan teknologi. Banyak pelaku UMKM merasa akuntansi adalah dunia yang “terlalu rumit” dan hanya relevan bagi perusahaan besar. Aplikasi akuntansi berbasis cloud dianggap menakutkan atau tidak cocok untuk usaha rumahan, padahal justru dirancang agar mudah dipakai siapa saja. Sikap ini, bila dibiarkan, menjadi penghalang besar bagi UMKM desa untuk beradaptasi dalam ekonomi digital yang menuntut transparansi, kecepatan, dan kemudahan pelacakan setiap transaksi usaha.

Berdasarkan artikel Peningkatan Akuntabilitas Bisnis UMKM yang ditulis oleh IGKA Ulupui, dkk. (2025) dalam International Journal of Engagement and Empowerment menunjukan bahwa program pelatihan pengelolaan dana usaha dan penyusunan anggaran yang melibatkan 30 UMKM di Desa Bulak Indramayu menunjukkan bahwa asumsi “UMKM tidak mampu” sebenarnya keliru. Ketika materi akuntansi dasar, penyusunan laporan keuangan sederhana, dan penggunaan aplikasi akuntansi disajikan secara praktis dan kontekstual, terjadi lompatan signifikan dalam pemahaman. Persentase peserta yang mampu mengidentifikasi komponen laporan keuangan sesuai standar akuntansi UMKM meningkat dari 26% menjadi 79%, sementara kemampuan menggunakan aplikasi digital untuk input transaksi dan penyusunan anggaran naik dari 15% menjadi 68%. Bahkan, 91% peserta menyatakan siap melanjutkan praktik penganggaran dan penggunaan alat digital setelah pelatihan berakhir, menandakan adanya perubahan sikap dan kepercayaan diri yang kuat. Data ini menyampaikan pesan penting, yaitu masalahnya bukan pada kapasitas intelektual pelaku UMKM, melainkan pada desain dan keberlanjutan pendampingan. Selama ini, banyak pelatihan berhenti pada level seminar satu arah, dengan materi teoritis yang tidak dihubungkan langsung pada konteks keseharian pelaku usaha. Sebaliknya, ketika pendampingan dirancang berbasis praktik langsung, simulasi kasus nyata, dan penggunaan bahasa yang sederhana termasuk pendekatan bilingual bagi sebagian peserta, berbagai hambatan teknis maupun psikologis perlahan terurai.

Rekomendasi dan Daya Saing UMKM

Di titik ini, arah pembinaan UMKM perlu ditata ulang agar lebih menyentuh kualitas tata kelola, bukan sekadar menambah modal atau jumlah program. Pertama, literasi keuangan harus diposisikan sejajar, bahkan mendahului intervensi berbasis permodalan, karena tambahan dana tanpa kemampuan menyusun laporan laba rugi, neraca sederhana, dan arus kas hanya memperbesar risiko gagal bayar di kemudian hari. Kedua, pemerintah daerah dan desa perlu meninggalkan pola pelatihan seremonial tahunan dan beralih ke pendampingan berkelanjutan melalui klinik konsultasi rutin, kelompok belajar kecil, dan kanal komunikasi yang memungkinkan pelaku UMKM bertanya saat mengalami kendala pembukuan, sejalan dengan semangat SDGs 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.  Ketiga, pemanfaatan teknologi akuntansi digital dan aplikasi berbasis cloud perlu digerakkan secara sistematis, karena pengalaman di Bulak menunjukkan bahwa alat semacam ini dapat mempercepat kemandirian pelaku UMKM dalam mencatat transaksi dan menyusun laporan sekaligus meningkatkan transparansi bagi lembaga keuangan. Keempat, penguatan kolaborasi lintas institusi dan lintas negara menjadi kunci agar pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik manajemen keuangan UMKM terus berlanjut, baik dengan universitas, pemerintah daerah, dan lembaga internasional berperan merancang modul, menyediakan pendamping, dan memastikan program tidak berhenti pada tahap proyek percontohan saja.

Akhirnya, penguatan literasi keuangan UMKM juga harus dilihat sebagai agenda pembangunan manusia, bukan sekadar ekonomi. Pelibatan generasi muda desa sebagai pendamping digital dan fasilitator pelatihan akan memperkuat kapasitas lokal dan menciptakan ekosistem belajar yang berkelanjutan. Dengan demikian, UMKM Indramayu tidak hanya diberi “alat” untuk bertahan, tetapi juga “bahasa” dan “logika” baru untuk membaca, merencanakan, dan mengendalikan masa depan usahanya sendiri di tengah tekanan dan peluang global. Jika arah ini diambil secara konsisten, maka narasi UMKM sebagai tulang punggung ekonomi tidak lagi hanya slogan, melainkan realitas yang ditopang oleh pengelolaan keuangan yang sehat, transparan, dan akuntabel dari desa hingga ke panggung ekonomi global.