Hero Background

Mewujudkan Sinergi Ekonomi Indonesia - Uni Eropa lewat CEPA di Tengah Tantangan Global

Oleh Admin 12 Desember 2025
Mewujudkan Sinergi Ekonomi Indonesia - Uni Eropa lewat CEPA di Tengah Tantangan Global

Sumber: Dokumen Pribadi

Jakarta, 11 Desember 2025 - Dalam situasi ekonomi dan politik global yang penuh ketidakpastian, Staf Ahli Pemerataan dan Kemitraan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Prof. Tirta Nugraha Mursitama, PhD, menilai Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia - Uni Eropa (Indonesia - EU CEPA) sebagai langkah strategis yang menandai era baru hubungan ekonomi antara kedua pihak. Di tengah kondisi global yang masih dipengaruhi oleh tarif resiprokal Amerika Serikat, ketegangan perdagangan AS - Tiongkok, serta dampak geopolitik dari konflik Rusia - Ukraina, kesepakatan ini menjadi simbol komitmen terhadap kerja sama ekonomi berbasis keterbukaan dan keberlanjutan.

Melalui CEPA, Indonesia dan Uni Eropa memperoleh peluang baru dalam memperluas pasar hingga menjangkau lebih dari 700 juta konsumen di Asia Tenggara dan kawasan Asia lainnya, dengan nilai potensi perdagangan diperkirakan mencapai lebih dari 60 miliar USD. Selain memperluas akses ekspor, perjanjian ini diharapkan mendukung peningkatan investasi berkualitas dalam sektor hilirisasi, mulai dari industri manufaktur berteknologi tinggi, energi baru dan terbarukan (EBT), hingga pusat data dan ekonomi digital. Langkah ini dinilai mampu mempercepat pemerataan investasi dan memperkuat kemitraan strategis bagi pembangunan ekonomi Indonesia.

Kendati demikian, Prof. Tirta mengingatkan bahwa pekerjaan utama yang menanti adalah mempercepat proses ratifikasi, agar pelaksanaan CEPA dapat segera dimulai. Ia menekankan bahwa implementasi perjanjian ini membutuhkan penyesuaian berbagai regulasi, penerapan standar internasional, dan koordinasi lintas kementerian serta lembaga pemerintah yang harmonis. Di sisi lain, peningkatan kesadaran publik mengenai manfaat CEPA perlu digerakkan melalui kegiatan diseminasi dan sosialisasi agar para pelaku usaha domestik siap memanfaatkan keuntungan yang tersedia setelah perjanjian berlaku penuh.

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Tirta dalam diskusi “EU - Indonesia Trade Deal : Opportunities and Challenges”, yang diadakan oleh Program Studi Hubungan Internasional BINUS University di Kampus JWC Senayan. Acara ini merupakan bagian dari konsorsium EU - Values, yang terdiri atas 21 universitas dan lembaga riset dari 7 negara Eropa serta 14 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Pasifik. Program kolaboratif ini berfokus pada kajian nilai dan demokrasi dalam kebijakan luar negeri Uni Eropa di berbagai kawasan dunia.


Sumber : Dokumen Pribadi

Kegiatan roundtable tersebut juga menghadirkan sejumlah panelis, antara lain Johni Martha (Ketua Perunding Indonesia - EU CEPA), Carsten Sorensen (Kepala Bidang Perdagangan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia), serta Dr. Mohamad Revindo (LPEM - UI). Forum ini merupakan bagian dari EU Values International Conference 2025, yang berlangsung pada 9 - 10 Desember 2025 dan menghadirkan lebih dari 80 peneliti dan akademisi dari 40 perguruan tinggi di 20 negara. Diskusi tersebut menjadi ruang strategis untuk membahas isu akses pasar, fasilitasi investasi, serta berbagai tantangan kebijakan yang masih dihadapi Indonesia dalam kerangka CEPA, sekaligus mempererat dialog antara akademisi, pembuat kebijakan, dan perwakilan Uni Eropa.

Dalam sambutan pembukaannya, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, H.E. Denis Chaibi, menegaskan pentingnya kemitraan akademik lintas kawasan antara Uni Eropa dan negara-negara Global South, termasuk Indonesia. Ia menilai konferensi seperti EU Values International Conference berperan penting dalam membangun pemahaman bersama tentang demokrasi, perdamaian, dan multilateralisme, serta memuji BINUS University atas peran strategisnya dalam menjembatani dialog keilmuan antara Eropa dan kawasan selatan dunia.

Sebagai penutup, Prof. Tirta menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi antara BINUS University dan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, yang dinilai menjadi contoh nyata sinergi antara akademisi, pemerintah, dan mitra internasional. Ia juga menyoroti adanya nota kesepahaman antara BKPM dan Uni Eropa yang melahirkan pendirian European Investment Desk di Kementerian Investasi dan Hilirisasi - sebuah langkah konkret dalam memperkuat fasilitasi investasi Uni Eropa di Indonesia dan membuka babak baru bagi hubungan ekonomi bilateral.