Satu Tahun Prabowo : Perkuat Kemitraan Global dan Transformasi Ekonomi Hijau Strategis

Oleh Admin 24 Oktober 2025 122 views
Satu Tahun Prabowo : Perkuat Kemitraan Global dan Transformasi Ekonomi Hijau Strategis

Sumber: Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM

Jakarta, Oktober 2025 - Dalam satu tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia berhasil meraih kemajuan signifikan dalam diplomasi investasi internasional. Dengan pendekatan yang proaktif, kolaboratif, dan berorientasi hasil, Indonesia menuntaskan berbagai perjanjian investasi penting seperti Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA), serta Bilateral Investment Treaty (BIT) dengan Kazakhstan dan Timor-Leste. 

Keberhasilan ini menjadi bukti nyata pemanfaatan peluang investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, sebagai lembaga pemerintah yang bertanggung jawab terhadap perjanjian investasi ini, sukses menyelesaikan Investment Protection Agreement dalam kerangka IEU-CEPA. Momen ini menjadi tonggak sejarah penting dalam diplomasi investasi Indonesia.

Nilai strategis IEU-CEPA terlihat dari penghapusan tarif lebih dari 98% pos tarif serta pembentukan kawasan ekonomi terintegrasi dengan populasi melebihi 700 juta jiwa. Perjanjian ini diperkirakan mampu menggandakan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Uni Eropa dari USD 30 miliar menjadi USD 60 miliar. Selain itu, perjanjian ini berpotensi membuka peluang investasi Uni Eropa yang jumlahnya mencapai USD 11 triliun secara global untuk masuk ke Indonesia, apalagi realisasi investasi ke Indonesia hingga saat ini masih relatif kecil. 

Sejalan dengan itu, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, menegaskan komitmen Uni Eropa untuk mendiversifikasi penanaman modal dengan Indonesia sebagai prioritas utama. Fokus utama investasi terletak pada sektor manufaktur bernilai tambah, energi terbarukan, teknologi hijau, dan jasa profesional.Sektor-sektor ini mencerminkan upaya diplomasi Indonesia untuk menarik investasi hijau yang berkelanjutan serta mendorong transformasi ekonomi menuju industrialisasi berdaya saing tinggi. 

Keberhasilan diplomasi investasi lainnya adalah penyelesaian bab investasi dalam ICA-CEPA dengan Kanada. Perjanjian ini memberikan fondasi hukum yang kuat untuk meningkatkan investasi bilateral dan memperlihatkan keseimbangan antara perlindungan investor dengan kedaulatan regulasi nasional. Proyeksi implementasinya termasuk peningkatan ekspor Indonesia hingga USD 11,8 miliar, pertumbuhan PDB nasional sebesar 0,12%, serta peningkatan investasi sebesar 0,38%. 

Dalam konteks ini, fokus pada investasi hijau terlihat dari perhatian terhadap lima sektor prioritas : energi baru terbarukan, infrastruktur listrik, transportasi ramah lingkungan, pengelolaan sampah, dan pasar karbon. Berbagai agenda tindak lanjut seperti Power Generation, Distribution and Transmission Mission dan Waste, Waste-to-Energy and Clean Energy Trade Mission telah dijadwalkan sebagai momentum konkret bagi investasi hijau dan pembangunan berkelanjutan.

Lebih lanjut, lima sektor prioritas di atas penting karena masing-masing memainkan peran strategis dalam mendorong investasi hijau yang berkelanjutan dan transformasi ekonomi Indonesia. Energi baru terbarukan menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengurangi emisi karbon. Infrastruktur listrik yang handal mendukung distribusi energi hijau yang merata dan efisien. Transportasi ramah lingkungan membantu menurunkan polusi dan meningkatkan kualitas udara. Pengelolaan sampah yang efektif melalui teknologi modern mengurangi dampak lingkungan negatif dan mengoptimalkan pemanfaatan limbah. Sedangkan pasar karbon memberikan insentif keuangan bagi pelaku usaha untuk menerapkan praktik bisnis yang rendah karbon, memperkuat komitmen dalam pengendalian perubahan iklim. Fokus ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan, sekaligus membuka peluang investasi yang besar dan berkelanjutan.

Selain pencapaian dengan Uni Eropa dan Kanada, Indonesia juga memperkuat kemitraan investasi di Asia melalui penandatanganan BIT dengan Timor-Leste dan Kazakhstan. Penandatanganan BIT Indonesia–Timor-Leste pada 27 September 2025 membuka perlindungan investasi, khususnya bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang mendominasi investasi di sana dengan nilai mencapai USD 1,44 miliar, meliputi Telkomsel, Pertamina International Timor, Bank Mandiri Dili, dan Bank BRI. Sementara itu, BIT dengan Kazakhstan yang disepakati pada 23 Agustus 2025 akan memperkuat perlindungan hukum bagi investor kedua negara dan dimungkinkan dilakukan penandatanganan resmi menyusul kunjungan diplomatik tingkat tinggi, membuka peluang investasi luas di sektor logam tanah jarang, pertambangan, energi terbarukan, serta transportasi dan logistik.

Di tengah gejolak geopolitik dan persaingan ekonomi global, keberhasilan perundingan investasi ini menunjukkan konsistensi dan keteguhan kepemimpinan Presiden Prabowo dalam mengarahkan Indonesia memperkuat integrasi ekonomi global. Ungkapan beliau, "Seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak," pun terefleksikan dalam diplomasi investasi yang menguatkan kemitraan strategis dengan mitra utama di kawasan Uni Eropa dan Asia. Lebih lanjut,  Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Bapak Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan bahwa diplomasi investasi pemerintah mempunyai nilai strategis tinggi dalam mendorong realisasi investasi dan penciptaan lapangan kerja berkualitas melalui pengembangan industri hilir sesuai Asta Cita Presiden Prabowo.

Sementara itu, Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal, Prof. Dr. Tirta Nugraha Mursitama, Ph.D., menyampaikan bahwa keberhasilan penyelesaian CEPA dan BIT mencerminkan kelincahan dan adaptabilitas diplomasi Indonesia menghadapi dinamika global. Pendekatan diplomasi investasi yang progresif dan terukur ini menempatkan Indonesia sebagai mitra strategis dalam rantai nilai global yang berkelanjutan. Namun demikian, beliau mengingatkan agar kesepakatan tersebut dikawal secara berkelanjutan agar implementasi berjalan efektif dan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan realisasi investasi. Dengan pijakan kuat dari hasil-hasil perjanjian ini, diplomasi investasi terus menjadi instrumen vital dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.